Mereview Novel: Tuhan, Izinkan Aku Menjadi Pelacur

 

“Tuhan, Izinkan Aku Menjadi Pelacur: Memoar Luka Seorang Muslimah”, wah dari judulnya saja terdengar cukup kontroversial, ya? Akhir-akhir ini banyak warganet yang membicarakan buku yang akan diangkat menjadi film ini karena judulnya yang cukup membuat dahi mengerenyit.

Sang penulis, Muhidin M Dahlan mengatakan bahwa kisah dari buku ini diambil dari kisah nyata. Mungkin jika kamu telaah isinya, kamu akan merasakan derita yang dijalani si pemeran utama. Ada rasa marah, kesal, dan bahkan tidak percaya mengenai kisah yang terjadi.

Selain itu di sini kita bisa melihat mengenai kebobrokan kondisi sosial kita yang selama ini tidak baik-baik saja. Benar-benar akan membantu kita untuk terbuka mata batinnya. Ia membuka semua hal, melihat semua pihak yang seakan terlihat baik ternyata di dalamnya mengandung hal yang selama ini mereka sembunyikan.

Di dalam buku ini diceritakan mengenai perjalanan hidup dari seorang muslimah. Ia pada awalnya tidak begitu peduli dengan agama. Namun, karena ada perantara seorang teman, ia pun menjadi lebih dekat dengan agama dan bahkan ingin belajar lebih banyak mengenai agama. Bahkan, ia pun ingin melaksanakan semua perintah agama. Ketekunannya ini bahkan membuat ia sampai melakukan spiritual tasawuf yang jarang dilakukan oleh orang lain.

Tetapi, di dalam perjalanannya untuk menjadi musloimah seutuhnya, ia dipertemukan oleh orang-orang yang tampak terlihat agamis dan akan memperjuangkan agama, tentu ia sangat menarik untuknya yang tengah belajar. Dalam semangatnya dalam mempelajari agama yang sedang menggebu-gebu itu, ia tidak bisa berfikir jernih dan langsung bergabung di dalam kelompok tersebut. Ia memiliki harapan, jika bergabung dengan kelompok yang terlihat akan memperjuangkan agama apapun caranya itu, ia akan menjadi manusia yang semakin taat dalam beragama.

Sayangnya, harapannya sirna saat di sana ia bukan menemukan ketaatan yang ia inginkan, tetapi malah kemunduran. Di dalam kelompok tersebut, ternyata mereka hanya menggunakan jubah agama untuk bisa menutupi kebobrokan mereka.

Di dalam kondisi diri yang tengah kecewa dan putus asa tersebut, ia menjadi sosok yang sangat berbeda dibandingkan dengan yang sebelumnya. Ia yang dulunya merupakan sosok yang sudah taat beribadah, kini jadi malas dan bahkan enggan untuk beribadah. Dulu ia hindari maksiat, kini ia bahkan hidup di dalam dunia yang penuh akan kemaksiatan. Tetapi di dalam kehidupannya tersebut, ia bisa melihat apa yang tidak bisa orang lain lihat.

Dari sini, kita akan diajak untuk melihat kondisi di sekitar kita lebih dalam, karena apa yang terlihat di luar belum tentu sama dengan apa yang kita lihat di dalamnya. Di luar, orang-orang bisa menggunakan apapun untuk menutupi diri mereka dari dalam. Misalnya, ia adalah seorang haji, namun ternyata ia tidak segan-segan untuk melakukan perbuatan yang keji.

Sejak awal diterbitkannya buku ini, ada banyak kontroversi yang dibuatnya. Dari judulnya saja sudah banyak orang yang memberikan nilai buruk, padahal mereka belum tentu sudah membaca isinya. Bahkan buku ini masih mendapatkan banyak kritikan setelah bertahun-tahun rilis.

Sedangkan menurut saya, ini merupakan salah satu buku yang layak untuk dibaca dan bisa menjadi bahan renungan yang baik. Bahkan mungkin kamu akan berpikir, apakah selama ini kita sudah benar dalam beragama. Jangan-jangan selama ini kita hanya sosok yang beragama di bagian luarnya saja.

Nah, itulah sedikit review yang bisa kami berikan untuk kamu yang tertarik untuk membaca buku karya Muhidin M Dahlan ini.